Minggu, 08 April 2012

Giliran Wanita Dilecehkan di Negeri Sendiri, Kita Bungkam!


GERAH juga rasanya saya mengikuti pemberitaan akhir-akhir ini baik itu di media cetak maupun media elektronik. Berita perkosaan adalah salah satu yang sangat merisihkan, karena info perkosaan menempati headline di berbagai media masa, seakan-akan tiada lagi warta menarik lainnya.
Sungguh sangat mengkhawatirkan jika situasi seperti ini terus dibiarkan melanda negeri ini, karena lama-kelamaan akan menjadi habit yang membentuk mainframe pada setiap orang bahwa wanita sebatas pemuas nafsu.
Banyak media masa yang memuat berita perkosaan sembari menjelaskan modus pelaku dalam melakukakan kejahatan tersebut.
Memang dengan adanya penjelasan modus perkosaan dapat menjadi pelajaran bagi korban atau calon korban agar lebih waspada. Namun secara tidak langsung penjelasan tersebut juga menjadi wawasan tersendiri bagi mereka yang rendah imannya untuk mengoleksi trik-trik khusus demi memperlancar aksi bejatnya. Buktinya, hingga detik ini berita perkosaan terhadap kaum hawa semakin sering kita dengar.
Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya yang di muat beberapa media masa, selama tahun 2011 terjadi 68 kasus perkosaan. Sedangkan pada tahun 2010, ada 60 kasus perkosaan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sekitar 13.33 persen dalam setahun. Atau bisa disimpulkan bahwa tindak kriminal perkosaan tumbuh subur di negara kita yang dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, sungguh-sungguh memalukan.
Sementara itu, data yang dirilis Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan, sejak 1998 hingga 2010 ada 295.836 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 91.311 di antaranya kasus kekerasan seksual. Ironis, terlebih kasus pemerkosaan menempati peringkat pertama yang sering terjadi. Sebanyak 4.391 perempuan di Indonesia mengalami pemerkosaan. Itu yang tercatat, bagaimana yang tidak tercatat?
Sementara itu, pada peringkat kedua aksi kejahatan yang menimpa perempuan, yakni kasus perdagangan manusia untuk tujuan seksual, ada sekira 1.359 kasus. Adapun kasus pelecehan seksual menempati peringkat ketiga dengan 1.049 kasus. Sungguh mengerikan!
Ironinya, belum ada organisasi massa (ormas) khususnya ormas Islam yang tampil beraksi menyikapi situasi ini secara konsisten. Bayangkan, dengan data seperti ini tak banyak masayarakat merasa ini sebuah peristiwa penting yang jadi perhatian besar. Para politisi juga masih hanya sibuk dengan urusan partainya sendiri.
Coba bayangkan jika satu kejadian saja seperti ini  terjadi di Arab. Apa yang bakal terjadi? semua warga protes, mencaci-maki –bahkan jika bisa—maunya mengajak perang. Gilirannya jika warga kita dianiaya, diperkosa dilecehkan di dalam negeri sendiri, kok ya kita semua seolah membiarkan?
Di sisi lain, formula penyelesaian masalah yang diambil pemerintah belum mampu menuntaskan perkara, bahkan penegak hukum yang menyidik kasus perkosaan juga bisa dibilang tanpa hasil nyata. Sementara lembaga-lembaga yang mengusung jargon gender, HAM, feminisme beserta kroni-kroninya yang lain seakan-akan bungkam tanpa aksi. Mereka hanya berkoar di depan media masa tanpa pengambilan sikap yang jelas dan tegas dalam menindaklanjutinya.
Saya coba mengutip Pasal 285 KUHP,  “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”
Sanksi ini sangat multitafsir dimana yang tertulis pidana penjara paling lama, tidak menutup kemungkinan hukuman penjara bisa dipercepat asal ada uang. Kemudian penjahat-penjahat itu akan bebas bergentayangan menebarkan kehancuran lagi.
Dan kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kasus perkosaan masih terjadi berulang-ulang dengan modus yang hampir sama.
Hal tersebut sangat mengindikasikan bahwa hukuman bagi pelaku perkosaan tidak menimbulkan efek jera sehingga kejahatan perkosaan terus meningkat. Kita tidak bisa banyak berharap kepada aparatur pemerintah untuk bertindak tegas dalam menyikapi kasus perkosaan. Selain hukum yang masih menganut kapitalis, pemimpin-pemimpin negeri ini juga belum memiliki wibawa dihadapan pelanggar hukum sehingga segala bentuk sanksi/ hukuman masih dapat di-negosiasi-kan.
Inilah kegusaran yang saya yakin banyak orang juga sedang merasakannya. Terutama mereka yang memiliki family wanita entah itu anaknya, adiknya, kakaknya, sepupunya  atau apapun statusnya. Paling tidak sebagai orang yang beriman semestinya kita mengambil sikap bila melihat kedholiman, dan bila sedikitpun kegusaran tidak dirasakannya maka bisa dipertanyakan keimanannya.
Melalui tulisan ini saya coba men-derivasi-kan angan yang terus membayangi setiap mengikuti perkembangan berita di media masa. Keprihatinan mendorong saya untuk coba membuka wacana public sebaiknya sikap apa yang menjadi solusi. Jika sampai sekarang ini ulama, tokoh masyarakat, pemimpin-pemimpin, pejabat, aparatur  keamanan, pegawai serta orang-orang yang berpengaruh di negeri ini masih adem-ayem dibalik gejolak kasus perkosaan yang kian merisaukan. Lalu siapa yang mestinya bertindak agar hukum Allah benar-benar dilaksanakan? Bukankah kita berada di bumi Allah?
Marilah  semua pihak untuk segera mengambil peran bersama dalam menindak tegas pelaku perkosaan yang telah menebarkan kemaksiatan di negeri ini. Jika perlu, kita mendampingi aparatur penegak hukum negeri ini sehingga mampu memberikan sanksi yang benar-benar menjerakan bagi pelaku perkosaan.
Yang lebih aneh, perangkat hukum kita terbukti tak pernah bikin orang jera memperkosa. Tapi kalau sudah giliran ditawarkan Islam sebagai bagian cara menyelesaikan masalah, semua di antara kita langsung menolak. Bayangkan jika seandainya salah satu keluarga kita menjadi korbannya, mungkin lain perkara.
Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan kita semua. Amiin yaa Robbal’alamin.

Sudahkan Putrimu Berjilbab?


SEORANG Muslimah merasa bahwa hijab menjadi bagian dari tubuhnya dan menjadi penutup dirinya, alat rasa malunya, tanda  kehormatannya, jalannya untuk menggapai cinta Allah untuknya, serta tangga mencapai surga-Nya.
Bila seorang Muslimah berjilbab, maka pada hakikatnya ia telah berusaha menunaikan salah satu perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman;
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab [33] : 36).
Selain itu, kerelaan seorang Muslimah menutupi auratnya dengan hijab syar’i merupakan bukti keimanannya. Dan, masih banyak hikmah lain yang akan dipetik oleh seorang Muslimah saat ia berjilbab sesuai dengan tuntunan syar’i.
Selaku orangtua, kita merasa bahagia manakala kita menyaksikan putri-putri kita berjilbab. Karena, walaupun bagaimana, orangtua akan dimintai pertanggung jawaban prihal pendidikan anaknya, dan salah satunya adalah masalah jilbab ini. Oleh karenanya, agar anak tidak merasa berat dalam mengenakan hijab syar’i saat ia menginjak usia balig, maka perlu adanya usaha orangtua untuk membiasakan anak berjilbab sejak dini. Karena, metode seperti ini ternyata sangat efektif dalam mendidik anak berjilbab. Tentu saja, metode membiasakan anak berjilbab ini sangat ditekankan untuk memperhatikan perkembangan usia si anak.
Tugas Orangtua
Orangtua akan dimintai pertanggungjawaban perihal pendidikan anaknya. Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda:
أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ingatlah, tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan setiap orang dari kalian akan ditanyai tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini dalam konteks umum. Adapun bagi laki-laki yang berkedudukan sebagai pemimpin, seperti suami, ayah, dan saudara laki-laki, bila mereka ini tidak memerintahkan dan menganjurkan istri, putrinya, atau saudara perempuannya agar mengenakan hijab, mereka akan menjadi dayyuts (yakni orang-orang tidak memiliki kecemburuan terhadap kehormatan wanita tanggungannya). Sedangkan, seorang dayyuts diancam oleh
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tidak akan masuk surga.
Di sisi lain, Islam memerintahkan agar anak-anak kecil dilatih beribadah sebelum usia balig. Ibadah shalat, misalnya, merupakan ibadah fardhu ain atas setiap muslim dan Muslimah. Akan tetapi, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) memerintahkan agar kita melatih anak-anak kita melakukannya sejak berumur tujuh tahun. Dan, kita dibolehkan memukul mereka bila berumur sepuluh tahun. Itu dilakukan sebelum mereka menginjak usia balig.
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengkhususkan shalat di antara ibadah lainnya dikarenakan shalat merupakan tiang agama. Sedangkan hijab itu seperti shalat, hukumnya wajib bagi setiap Muslimah dengan perintah yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya seperti telah dijelaskan tadi.
Tips Membiasakan Anak Berjilbab Sendari Kecil
Yang pertama yang harus dipahamkan kepada anak saat membiasakan mereka berjilbab adalah jilbab merupakan salah satu perintah Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya’.” (An-Nur [24] : 31)
Yang kedua, pahamkan kepada anak bahwa berjilbab sama artinya taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena ia telah menunaikan salah satu perintah Allah Ta’ala. Dan, Allah telah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab [33] : 36).
Yang ketiga, tanamkan pada diri anak bahwa jilbab merupakan bukti keimanan seorang Muslimah. Allah SAW tidak mengarahkan pembicaraan tentang hijab kecuali kepada para wanita mukminah. Dia berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman.” Dia juga berfirman, “Dan istri-istri orang mukmin.” Tentu seorang wanita akan merasa bangga bila masih menyandang keimananj dalam dirinya.
Keempat, tunjukkan kepdada anak bahwa berjilbab dapat menyelamatkan hati. Sebab, bila mata tidak melihat sesuatu, maka hati pun tidak akan berhasrat. Dari sini, ketika mata tidak melihat sesuatu yang terlarang, maka hati menjadi lebih suci. Kemungkinan terbebas dari fitnah pun lebih nyata karena hijab akan memutus hasrat orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Allah berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Al-A’raf [7] : 26).
Semoga kita diberi kemauan dan kemampuan untuk menanamkan syariat jilbab ini kepada putri-putri kita dan diteguhkan di atasnya hingga ajal menjemput.

Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya


Tanda-tanda Lemah Iman:
1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an
3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
4. Meninggalkan sunnah
5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah
9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri
Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:
1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
8. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan
10. senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
11. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
12. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

Menjadi pribadi yang bermanfaat

Harta tidak akan pernah bisa mempertahankan kehidupan di muka bumi. Sehebat apapun usaha manusia untuk memperpanjang hidupnya, kematian pasti akan tiba pada saat yang telah ditentukan. Sebelum menyesal, masih ada kesempatan untuk membuat harta kita menjadi abadi. Caranya: transferlah harta anda ke akhirat. Salurkan kekayaan anda melalui lembaga-lembaga sosial yang membantu fakir miskin dan anak yatim, lebih dari itu wakafkan harta anda untuk pelayanan sosial seperti masjid, sekolah pendidikan agama dan rumah sakit. Dari sini harta anda akan bergerak mencarikan pahala untuk anda. Dari sini kecapean yang selama ini anda lakukan tidak akan menjadi sia-sia. Anda kelak ditunggu oleh harta anda di surga.



GELAS TUMPAH SESUAI ISINYA
Apabila sebuah gelas kita isi dengan air putih maka jika sudah penuh akan menumpahkan air putih juga. Begitu juga jika ke dalam gelas itu kita isi air kopi maka kalau gelas itu meluber dan tumpah yang keluar adalah air kopi.
Begitu pun dengan hati kita, jika hari demi hari diisi dengan pembicaraanAgama, kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan masa depan kampung akhirat, maka ketika kita meninggal dunia hati kita akan mengeluarkan isinya: Allah….Allah….Allah …..Laa ilaaha illallah, dan inilah akhir hidup yang didambakan semua orang Islam yaitu Khusnul Khotimah.
Tapi apabila hari demi hari, hati kita diisi dengan pembicaraan dunia, digunakan untuk memikirkan dan melulu hanya mengurus dunia, maka dapat ditebak ketika meninggal dunia, isi hati yang ia tumpahkan adalah tentang dunia (harta, pangkat, jabatan, anak, istri), Naudzubillah! Inilah akhir kehidupan orang yang telah gagal dalam menjalani hidupnya di dunia mati dalam keadaan su’ul khotimah.
Barangsiapa merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah, maka dia kaya.
Barangsiapa suka memandang harta orang lain, dia akan mati miskin.
Barangsiapa tidak redha (tidak rela) dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya, maka dia telah menentang keputusanNya (qadha’Nya)

Barangsiapa memandang remeh kesalahannya, maka dia akan memandang besar kesalahan orang lain.
Barangsiapa memandang besar kesalahannya, maka dia akan memandang remeh kesalahan orang lain.
Barangsiapa membuka aib orang lain, maka aib keturunannya akan tersingkap.
Barangsiapa menggali lubang untuk mencelakakan saudaranya, maka dia sendiri akan terjerumus ke dalamnya.
Barangsiapa bergaul dengan ulama, maka dia akan dimuliakan.
Barangsiapa memasuki tempat-tempat biasa dikunjungi orang-orang bodoh, maka dia akan direndahkan.
Dan barangsiapa memasuki tempat-tempat kemaksiatan, maka dia akan dituduh berbuat maksiat.
===============================
Dan Dialah yg telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing2 dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?
Tiap2 yg berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar2nya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.
(Q.S. Al Anbiyaa’ : 33-35)
====================
Tapi ternyata kita masih menyimpan beban itu di pundak kita. Membawanya keman-mana. Ke sepanjang kehidupan kita.
Lalu kita pun meringkih sakit …Kita terlanjur mejadi ragu dan patah semangat.
Saat mencoba kesempatan kedua. Ketika kita pernah salah dan kalah di kesempatan pertama. Kita terus dibayangi ketakutan bahwa di masa yang akan datang. Kejadian buruk itu akan terulang.
Maka kita memasukkan se-ton lagi beban masa depan ke dalam pundak kita hari ini.
Terseok-seok berjalan, lalu jatuh …
Saudaraku … Kita harus belajar memaafkan diri kita sendiri. Bertaubat dan membuka ruang baru untuk kesempatan kedua.
Kita harus menurunkan beban di pundak kita. Menyimpan beban masa lalu di gudang sejarah dan kenangan … menjadikannya hikmah berharga, sebagai bekal di perjalanan.
Lalu membiarkan beban tentang hari esok tetap berada di tempatnya.
Toh, ketika kita terus berjalan di garis kehidupan kita, Dan beban itu ‘ternyata’ memang jatah kita. Maka pada saat yang tepat kita akan benar-benar mengangkutnya
Maka fokuslah pada beban kita hari ini. Lakukan, kerjakan, selesaikan. Kadangkala waktu adalah penyelesaian terbaik dari masalah yang kita hadapi
Fokuslah pada Masalah Hari ini. Segera selesaikan… Karena menunda menyelesaikan masalah, akan membuat perjalanan kita menuju masa depan terhambat dan tertunda lebih lama.
Jika ada masalah di masa lalu yang belum tuntas dan menghantui perjalanan kita, maka akuilah … carilah apa masalahnya, apakah masih mungkin diselesaikan ? Jika orangnya masih hidup,maka temuilah.
Lebih baik bertanya hal yang selama ini membuatmu berprasangka dan membuat lemah. Lakukan rekonsiliasi dan saling memaafkan… hingga gumpalan sesak di dada jadi lunak dan melegakan.
Jika bebanmu berkaitan dengan orang yang sudah meninggal, maka kau perlu menyelesaikan urusan dengan dirimu sendiri. Memafkan dan berdoa. Allah Tahu apa yang lebih baik untuk kita.
“Beban masa lalu yang telah pergi, dan beban masa depan yang belum terjadi hanya akan menambah berat beban hari ini, jika kita memikirkan semuanya sekarang”
Seperti riwayat Nasihat Rasulullah pada Abu dzar :
“wahai Abu Dzar ringankanlah beban, sebab rintangan di depan sulit diatasi. Perbanyaklah perbekalan, sebab perjalanan ini panjang. Kokohkanlah perahu, sebab samudra begiotu dalam. Dan ikhlaskanlah dalam beramal, Sebab sang pengawas menyaksikan ”
Tutuplah buku lama dan mulailah lembaran baru. Menatap lurus ke depan, perbanyak bekal dan terus melangkah..

MAKNA KATA “KAMI” DALAM AL-QUR’AN


Seringkali, orang kufar mencoba mengganggu iman kita dengan bertanya: Mengapa Qur’an sering guna kata KAMI untuk ALLAH? Bukankah kami itu banyak? Apakah itu bermakna Qur’an pun mengakui Tuhan itu lebih dari 1?
Kata KAMI sebagai penghormatan
Bahasa Arab ialah bahasa paling sukar di dunia. Hal ini disebabkan karena dalam 1 kata, bahasa arab memiliki banyak makna.
Contoh: Sebuah gender, dalam suatu daerah boleh bermakna lelaki, tapi dalam daerah lain boleh bermakna perempuan.
Dalam bahasa Arab, dhamir ‘NAHNU’ ialah dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu ‘NAHWU’, maknanya tak cuma kami, tapi aku, saya dan lainnya.
JIKA MEMANG “KAMI” DALAM QUR’AN DIARTIKAN SEBAGAI LEBIH DARI 1, LALU MENGAPA ORANG ARAB TIDAK MENYEMBAH ALLAH LEBIH DARI 1? MENGAPA TETAP 1 ALLAH SAJA? TENTU KARENA MEREKA PAHAM TATA BAHASA MEREKA SENDIRI.
Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi.
Selain kata ‘Nahnu”, ada juga kata ‘antum’ yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna ‘antum’ adalah kalian (jamak).
Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan ketimbang menggunakan sapaan ‘anta’.
Kata ‘Nahnu’ tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.
Contoh: Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang berpidato sambutan berkata,”Kami merasa berterimakasih sekali . . . “
Padahal orang yang berpidato Cuma sendiri dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna jika orang yang berpidato sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?
Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.
Di dalam Al-Quran ada penggunaan yang kalau kita pahami secara harfiyah akan berbeda dengan kenyataannya. Misalnya penggunaan kata ‘ummat’.
Biasanya kita memahami bahwa makna ummat adalah kumpulan dari orang-orang. Minimal menunjukkan sesuatu yang banyak. Namun Al-Quran ketika menyebut Nabi Ibrahim yang saat itu hanya sendiri saja, tetap disebut dengan ummat.
QS.16 An-Nahl :120 Sesungguhnya Ibrahim adalah “UMMATAN ” yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan.
Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular [anâ], dan ada kata ganti pertama plural [nahnu]. Sama dengan tata bahasa lainnya. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular.
Dalam grammer Arab [nahwu-sharaf], hal demikian ini disebut “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri.
Permasalahan menjadi membingungkan setelah al-Quran yang berbahasa Arab, dengan kekhasan gramernya, diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk Indonesia, yang tak mengenal “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i” tersebut.
Contoh penggunaan kata KAMI dalam Qur’an: QS. 15 Hijr: 66. Dan telah Kami wahyukan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.
“Kami wahyukan…” Maka disini berarti ada peran makhluk lain yaitu Malaikat Jibril sebagai pembawa atas perintah Allah.
Contoh penggunaan kata AKU dalam Qur’an:
11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku.
Pada ayat-ayat di atas, kata AKU digunakan karena Allah sendiri berfirman langsung kepada Nabi Musa tanpa perantara Malaikat Jibril…. ^_^
Contoh penggunaan kata KAMI dan AKU yang bersamaan dalam Qur’an:
QS.21 Anbiyaa: 25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
Kata KAMI digunakan saat Allah mewahyukan dengan perantara Malaikat Jibril, & kata AKU digunakan sebagai perintah menyembah Allah saja

Nasehat, Teguran, dan Pelajaran


kumpulan nasehat islami , pelajaran islami , nasehat religi para ulama , tausiyahislami dari para ulama
kewajiban ayah adalah mencarikan suami yang soleh bagi anaknya -Ustadz Badrussalam. LC Hafidzhahullahu-
tujuan dari menikah adalah menegakkan agama Allah. jadi apabila dalam pernikahan yang ada hanyalah maksiat. maka rumah tangga tersebut tidaklah diberkahi Allah-Ustadz Badrussalam.LC Hafidzhahullahu-
..Lelaki sejati adalah yang bertanggung jawab dalam mengurus wanita… -Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.-
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: berilah makan orang yang lapar dan jenguklah orangyang sakit -HR Bukhari-
orang yang menunda-nunda berbuat kebaikan adalah orang yang hatinya lemah – Ustadz Ali Nur Hafidzhahullahu-
Ghadhul bashar, menundukkan pandangan (dari hal-hal yang dilarang -pent), dapat mencerahkan akal pikiran.
@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)
“Seorang MUKMIN itu bukanlah orang yang suka mencela,suka melaknat,suka berkata keji dan suka berkata kotor”.
(HR.at-Tirmidzi no.1977)
saat rapat kabinet atau acara-acara kenegaraan lainnya. SBY selalu memperhatikan waktu. apabila jam tangan beliau menunjukkan telah tiba waktu sholat maka beliaupun mengingatkan jajarannya bahwa waktu sholat telah tiba -Pak Patrialis Akbar Hafidzhahullahu-
saat membuka rapat kabinet. SBY hampir tidak pernah melewatkan ucapan ‘segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Esa. – Mantan Menteri Kehakiman dan HAM Bpk Patrialis Akbar Hafidzhahullahu-
Jodoh Tak Kan Ke Mana … “Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad)
-Ustadz Muhammad Aduh Tuasikal Hafidzhahullahu-
Syukur adalah ibadah. Tidak ada yang bisa melakukannya dengan baik, melainkan orang2 yang mengetahui besarnya nikmat (pahala) syukur tersebut. @Dr_almosleh
Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, “Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”. Beliau menjawab, “Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71-72)
Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu agama sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu agama, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu agama dalam rangka mengamalkan ilmu agama, niscaya ilmu agama yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71)
Harun arrosyid pernah bertanya kepada al ashma’iy tentang hakikat mabuk cinta. Maka ia berkata, “Mabuk cinta itu membutakan hati dari kekurangan yg dicintainya. Sehingga bau bawang dari keringatnya lebih baik dari minyak kesturi dan anbar”. (talab3lm.nicetopic.net) – via FB Ustadz Abu Zubair Hafidzhahullahu-
“Sesungguhnya Allah tidak menerima satu amalan, kecuali amalan yang diikhlaskan untuk-Nya dan untuk mencari wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i)
“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)
“Jangan pernah anda berpikir untuk mendapatkan sosok wanita sempurna tanpa cacat. Jika orientasi anda adalah menikahi wanita tanpa cacat, maka jangan pernah berpikir untuk menikah di dunia, karena wanita idaman anda adalah wanita penghuni surga (baca : bidadari). Tapi sebelum itu, pikirkanlah jalan untuk menuju ke sana (surga). Dan salah satu jalan menuju surga adalah dengan menikah (di dunia), yaitu menikahi wanita penghuni dunia yang penuh ketidaksempurnaan..”
-Ust. Dony Arif Wibowo-
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara’/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 133)
Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 51)
Sebagian orang bijak mengatakan, “Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 105)
Muhammad bin Ya’qub rahimahullah berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, “Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.” Lalu beliau ditanya, “Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”. Beliau menjawab, “Sikap wara’/menjaga diri dari yang diharamkan.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 72)
Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)
Pelajaran akhlak yang kita terima seharusnya kita gunakan untuk menilai prilaku kita sendiri, bukan malah kita gunakan untuk menilai prilaku orang lain ..
-Ust. Resa Gunarsa, Lc.-
“Nikahkanlah anakmu dengan orang yang agamanya bagus, karena jika dia mencintainya maka dia akan memuliakannya sedangkan jika tidak mencintainya maka tidak akan mendholiminya.” -Imam Hasan al-Bashri- Rahimahullahu=
puncak kedurhakaan seorang anak lelaki adalah ketika menikah lantas kemudian dia lebih mengutamakan wanita yang belum lama ia kenal ketimbang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya
- khutbah yang disampaikan seorang ustadz muda yang sebentar lagi akan menikah yang disampaikan berbarengan dengan menitiknya air mata di pipi beliau -
======================
Sahabat yang baik adalah saudara yang tulus mendoakan dan mengingatkanmu pada Allah.
Yang mengenal dirimu dan senantiasa menjaga ukhuwah, memberi ketenangan saat bersamanya, ada insprirasi amal shaleh saat melihatnya,
Dalam diamnya dia mendoakan, dalam senyumnya dia menenangkan, dalam nasihatnya dia bangkitkan semangat mencintai kebaikan…